Nulis dari Buletin yang di dapet dari Shalat Jum’at di Masjid Komplek deket kantor
Buletin Al – Irsya edisi 340/thn. VII/2011/1432H
mending langsung ajah yah ga make prolog apa2…

Jadi, Sungguh nikmat Iman tiada bandingan harganya, mengapa? Karena godaan nafsu semakin berat, bukan hanya sekedar mengajak maksiat, namun juga sedikit – sedikit menggerogoti rasa taat. Andai saja Allah SWT tidak memberikan kita keimanan mungkin kita sudah menjadi para pengikut setia syetan – syetan yang tidak segan memberangus keikhlasan tapi juga memupuk keserakahan, jangankan teman saudarapun rela kita singkirakan, demi apa? demi kekuasaan, kepuasan demi kemewahan dan demi dunia yang menggiurkan. Alhamdulillah (ga make gaya Syahrini), Allah memberikan kita keimanan yang semoga selalu menjaganya untuk tetap bersama kita selalu. Perjalanan Iman harus mampu menaklukan nafsu akan harta, wanita, anak, dan kuasa. Dan memang inilah cobaan terbesar manusia.
Terdapat kisah menarik mengenai diskusi Rasulullah SAW saat bertamu ke rumah sahabat Ali bersama Abu Bakar, Umar dan Ustman. Dimana saat itu Fathimah istri sahabat Ali dan merupakan putri Rasulullah SAW menyuguhkan madu di dalam mangkuk cantik tetapi terdapat sehelai rambut di dalamnya. Kemudian Rasulullah meminta sahabat – sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut.
- Abu Bakar R.A : “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman lebih susah dari meniti sehelai rambut”
- Umar R.A : “kerajaan (negara) itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja (Presiden) lebih manis dari madu ini, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”. ini merupakan jawaban seorang negawaran sejati yang berkarakter, kaidah kenegaraannya harusnya dianut dan dijadikan pedoman bagi para pemimpin.
- Ustman R.A : “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki lebih sulit dari meniti sehelai rambut”
- sahabat Ali (yang merupakan tuan rumah) : “tamu itu lebih cantik dari mangkuk cantik ini, menjamu tamu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”
- Sayidah Fatimah (satu-satunya wanita dalam diskusi tersebut) : “seorang wanita lebih cantik dari mangkuk cantik ini, wanita yang berbuqo lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”
- Rasulullah SAW : “seorang yang medapat taufiq untuk beramal lebih cantik dari mangkuk cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”
pada saat itu malaikat jibril juga turun rembug dan men-tamsilkan ketiganya
- Malaikat Jibril : “menegakkan pilar – pilar agama lebih cantik dari mangkuk cantik ini, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan usaha untuk mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”
kemudian Allah SWT berfirman : “Sorgaku lebih cantik dari mangkuk cantik ini, nikmat sorgaku lebih manis dari madu, dan menuju sorgaku lebih sulit dari meniti sehelai rambut”